Marcantiophyta dan ANTHOCEROTOPHYTA



Kelompok 9 :
Anggi Dwi Putri         2013184205B0029
Emi Irizkika W            2013184205B0044
Evi Zakiyah                 2013184205B0003
Robiatul Adawiyah     2013184205B0031
Ulfa Luluk S.              2013184205B0037

 


                                             



Marcantiophyta
Gambar 1. Symphogyna podophylla (Filum Marcantiophyta, Kelas Jungermanniopsida, subclass Metzgeriidae).

Lumut hati (dikenal dengan Hepatophyta, Jungermanniophyta, Hepaticae, dan Hepaticopsida), terdapat sekitar 5000 spesies (Gradstein et al. 2001). Crum (1991) mengatakan, terdapat hingga 10.000 spesies, "tergantung pada siapa yang mengatakan itu dan kapan," karena begitu banyak nama spesies dari berbagai belahan dunia.
Seiring dengan perkemangan zaman maka disebut bryophyta. Sebagai filum, lumut hati dibedakan dari filum Bryophyta dilihat  dorsi-ventralnya, Rhizoid uniseluler, Kapsul inopercular.  Ada beberapa pengecualian, seperti tidak adanya kolumela dan stomata dalam kapsul. Memiliki seta (tangkai pada kapsul), seperti halnya lumut tetapi hanya terlihat pada saat kapsul tumbuh. Pada lumut, seta terlihat sebelum kapsul tumbuh. Memiliki Spora seperti halnya pada lumut, semua terjadi secara pembelahan meiosis. Kapsul tidak terlihat seperti kebanyakan yang ada pada lumut, dehisces biasanya dengan membelah diri menjadi empat katup, tetapi tidak termasuk dalam kelas Marchantiopsida. Spora tercampur dengan elater  (filamen spiral elastis sebagai pelindung spora pada saat basah).
Elaters terdapat pada lumut hati Thallose ricciaceae dan Sphaerocarpales (Sphaerocarpos, Riella). Masing –masing memiliki sel yang fertil. Elaters mampu bertahan dalam kondisi basah, pada pembelahan pertama kapsul kemungkinan besar akan memutar dan berubah disekitar spora saat kondisi kering. Ketika kapsul terbuka elater terisi air, hal ini menyebabkan daerah tipis elater harus ditarik ke dalam sehingga elater terisi menjadi dabel helix. Saat kondisi kering terjadi adhesi air didalam elater sehingga menimbulkan kontraksi dinding sel elater. Setelah adhesia air terjadi didalam elater maka selanjutnya terjadi fase istirahat, elater kembali pada bentuk semula. Tekanan air didalam sel dapat setinggi 200-300 atmosfer pada spesies Lophozia. Pada Cephaloziella, spora dapat melakukan perjalanan hingga 4-5 cm (Douin 1914 di Schuster 1966) dan pada Tritomaria quinquedentata sekitar 2,5 cm (Meylan di Schuster 1966).
Pada Frullania dilatata (Jungermanniopsida), elater menempel pada dinding kapsul di kedua ujungnya (Schuster 1966). Ketika kapsul terbuka, elater yang membuka menimbulkan kontraksi. Kemungkinan besar pengeringan lebih berkontribusi pada ketegangan sampai ujung inner untuk  melepaskan, hal ini menyebabkan spora menyembur setinggi 1-2 cm keatas. Namun, menurut Schuster sebagian besar peran elater dalam hal ini adalah untuk melonggarkan massa spora.
Pada Marchantia, elater memutar dan menguraikan berdasarkan perubahan kelembaban. Kapsul tidak membuka sepanjang empat baris yang berbeda dari Dehiscence (bandingkan Gambar 8 sampai Gambar 12), selain membuka juga tenjadi penekukan kembali yang disebut lobus pendek. Pada saat kering elater memutar sehingga memadat. Ketika elater terbebas, terjadi gerakan spontan menyemburkan spora dari kapsul (Ingold 1939 di Schuster 1966). Pada lumut hati seperti Pellia, filamen spiral elastis tidak begitu tebal sehingga gerakan yang terjadi lambat untuk mencapai banyak penyebaran (Schuster 1966) dan begitu pula sebaliknya pada Dehiscence. Namun, gerakan lambat elater dapat berfungsi untuk melonggarkan spora, membuat penyebaran lebih mudah ketika sesuatu mengganggu tangkai dan kapsul.

berdaun atau Thallose?
Lumut hati dibagi menjadi dua kelas yaitu Marchantiopsida dan Jungermanniopsida. Jungermanniopsida terbagi menjadi dua subclass, yaitu Metzgeriidae (kebanyakan thallose) dan Jungermanniidae (lumut hati kebanyakan berdaun). Berdasarkan gen 18S rRNA untuk semua bryophyta diuji, Marchantiopsida jelas dipisahkan dari Jungermanniopsida, tetapi yang terakhir berada di clade yang sama dengan Bryophyta! Selanjutnya Metzgeriales dan Jungermanniales dimasukkan pada cabang yang sama.

Kelas Marchantiopsida Thallus
Marchantiopsida memiliki sebuah talus yang bercabang dan umumnya memiliki pori-pori. Talus adalah beberapa sel tebal yang dihasilkan dari ruang udara internal. Semakin rendah permukaan biasanya memiliki dua jenis rhizoids yang halus dan “pasak”(tonjolan ke dalam dari dinding sel), dan biasanya memiliki sisik. Kapsul dehisces tidak teratur dan operkulum sel berdinding tipis, seperti pada Cyathodium.
Talus pada Marchantiopsida memiliki beberapa kemiripan dengan daun tracheophytea. Rongga udara terdiri dari beberapa sel-sel fotosintetik yang menyerupai mesofil spons dari daun tracheophyte. Pori-pori sebagai tempat pertukaran masuk dan keluarnya sel-sel fotosintesis.

Struktur seksual
Marchantiopsida (archegonia) yang tumbuh menjadi archegoniophore, pada  marchantiaceae bterdapat talus seperti pada Ricciocarpos. Demikian juga, pada antheridia yang terletak di antheridiophore, pada Marchantia tertanam di talus, seperti halnya pada Ricciocarpos.
      Pada archegoniophore dan antheridiophore dihasilkan oleh infolding dari talus, Terdapat sepanjang permukaan vertikal, dan rhizoids dapat dilihat di sepanjang tangkai. kepala antheridial  pada  Marchantia memungkinkan sperma untuk menyembur  dari induknya untuk mendarat di kepala archegonial yang memulai perkembangan dan belum mengalami peninggian secara signifikan. Setelah sperma berada di sekitar archegonia, arkegonium akan menarik sperma dengan protein (Harvey-Gibson & Miller-Brown 1927).
ANTHOCEROTOPHYTA
Tanaman Notothylas orbicularis dimasukkan pada lumut di Anthocerotae, umumnya diklasifikasikan di filum Anthocerotophyta, kekerabatan tumbuhan tersebut lebih jauh dengan bukti genetik seperti pakis (Hori et al 1985;. Sherman et al 1991;. Nickrent et al 2000;. Knoop 2004; Groth-Malonek 2005). Namun bukti kimia lainnya menempatkan Notothylas orbicularis  dekat dengan lumut hati (Hanson et al 1999.); Seperti lumut dan pakis memiliki kekerabatan yang dekat. Namun, karakter tersebut dapat membuktikan hal yang adaptif dan berkontribusi untuk hubungan tingkat filum.
Klasifikasi lumut tanduk dengan klass antheceroptopsida (Stotler & Crandall-Stotler 2005), sebuah konsep yang didukung oleh data molekuler (Frey & Stech 2005). Genus Anthocerotopsida adalah lumut terbesar dan paling terkenal. Kelas kedua adalah Leiosporocerotopsida, kelas dengan satu urutan, satu keluarga, dan satu genus. Genus Leiosporoceros berbeda dari anggota kelas Anthocerotopsida dengan memiliki cyanobacterium Nostoc di kanal longitudinal. Dalam hornworts lainnya, koloni Nostoc tersebar di koloni bulat diskrit (Villarreal A. & Renzaglia 2006).
Seperti di Bryophyta lain, gametofit di Anthocerotophyta adalah generasi yang dominan, tetapi terdapat juga pada beberapa pakis di mana gametofit juga dianggap dominan. Lumut tanduk berbeda dari lumut hati yang biasanya hanya memiliki satu kloroplas per sel dalam talus, dan memiliki protein yang berfungsi sebagai inti untuk penyimpanan pati dan umumnya terdapat di ganggang hijau.
Sel lumut tanduk memiliki kloroplas tunggal, pyrenoid berbentuk bulat di tengah, dan tidak adanya lipid. Foto oleh Chris Lobban.
Beberapa Anthocerotophyta memiliki adaptasi yang menarik untuk membantu mendapatkan yang terbaik dari sumber daya lingkungan. Struktur Pyrenoid memiliki banyak tingkatan konsentrasi Rubisco, dan untuk konsentrsi CO2 (Hanson et al. 2002). Selanjutnya, talus berkoloni (Gambar 3-Gambar 5),
Cyanobacteria menyediakan konversi nitrogen atmosfer ke dalam lumut yang dapat digunakan. Kemudian nitrogen ditransfer dari gametofit talus ke spora. Selain itu, jika gametofit tumbuh di tempat gelap dan spora tumbuh di tempat terang  dapat mentransfer fotosintat untuk gametofit (Bold et al. 1987). Dan yang sporofit dapat memiliki dua kali fotosintesis carbon fiksasi gametofit (Thomas et al. 1978)!
Karakter lumut hati, Lumut Daun dan Lumut Tanduk
ü  Karakeristik Lumut Hati :
1.      Tubuhnya berupa talus, berakar rizoid
2.      Ditemukan di tempat lembap
3.      Gametofitnya membentuk anteredium dan arkegonium yang berbentuk seperti payung
4.      Berembangbiak secara generatif(oogami) dan secara vegetatif(fragmentasi, tunas, kuncup eram )
5.      Tidak memiliki jaringan meristematik sehingga sporofit pertumbuhnnya terbatas
ü  Karakteristiktik Lumut Tanduk
1.      Gametofit mempunyai talus yang berbentuk cakram
2.      Pada sisi bawah talus terdapat stoma dengan 2 sel penutup yang berbentuk ginjal
3.      Sel-selnya hanya memiliki satu kloroplas dengan satu pyrenoid
4.      Sel-sel yang menysun sporangium berbentuk rhizoid yang melekat pada talus gametofitnya
5.      Tubuhnya mirip dengan lumut hati tetapi berbeda pada sporofitnya
6.      Sporofit pda lumut ini berbentuk kapsul memanjang yang tumbuuh seerti tanduk
7.      Habitatnya di daerah yang memiliki kelembapan tinggi
8.      Dinding sporagoniu mepunyai stoma dengan 2 sel penutup

ü  Karakteristilk Lumut Daun :
1.      Fase Dominan adalah fase gametofit
2.      Akar berupa rhizoid
3.      Reproduksi vegetatif dengan spora, generatif dengan arkegonim yang menghasilkan ovum dan anteredium menghasilkan sperma
4.      Mempunyai sruktur seperti akar(rhizoid) dan struktur seperti daun
5.      Gametofitdibedakan dengan 2 tingkatan yaitu protonema yang berbentuk benang dan gametofora yang berbentuk tumbuhan lumut
6.      Saprofitnya terdiri dari bagian seta, apofiksis, kapsul, kaliptra, sporanya terdiri dari 2 lapisan yaitu endospora dan eksospora
7.      Lumut daun dapat tumbuh diatas tnah-tanah gundul yang periodiknya menalami masa kekeringan
8.      Habitatnya pada tempat lembap

Ringkasan
Bryophyta diklasifikasikan menjadi tiga filum (lumut hati(hepaticopsida), lumut daun (Bryopsida), lumut tanduk(antehocerotopsida) yang dapat ditempatkan di subkingdom Bryobiotina. Lumut tanduk (antehocerotopsida) memiliki perbedaan pada sporanya, sporanya berbentuk seperti tanduk dan tumbuh di dasar sebagai spora matang dan tersebar di puncak.
Anthocerotophyta memiliki generasi gametofit yang dominan. Gametofit menghasilkan arkegonium dan anteredium. Embrio berkembang dalam arkegonium (betina).
Sporofit tetap melekat gametofit dan menghasilkan spora melalui meiosis selama jangka waktu lama, dengan spora termuda di pangkalan. Pseudoelaters diproduksi bersama dengan spora, tapi dibentuk oleh mitosis dan tetap 2n. Kapsul dibelah membujur dan mengelupas mundur dari ujung.

Komentar

Postingan Populer