LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI ISOLASI DAN PENGAMATAN KARAKTERISTIK FUNGI
LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI
ISOLASI DAN PENGAMATAN KARAKTERISTIK FUNGI
Penyusun:
1.
SITI NUR KHOLIFAH NIM.2013184205P0052
2.
SITI ZAINIATUS Z. NIM.2013184205B0046
3.
EMI IRIKIKA W. NIM.2013184205B0044
4.
ANGGI DWI PUTRI. NIM.2013184205B0029
5.
IMAMAH NIM.2013184205B0026
6.
MOHAMMAD AFANDI NIM.2013184205B0020
7.
EVI SULASTRI NIM.2013184205B0045
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PGRI JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam hidup ini, kita selalu dikelilingi dengan spesies-spesies
makhluk hidup yang beranekaragam salah satunya fungi. Fungi ada yang bersifat menguntungkan dan ada pula
ya ng bersifat merugikan. Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari
meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya
tumbuh pada waktu tertentu, pada kondisi tertentu yang mendukung, dan lama
hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di
kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. namun, jamur ini segera mati
setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan,
misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.
Fungi akan terus menjadi bahan bagi penelaah ilmiah dasar,
terutama yang berkaitan dengan morfogenesis. Mereka akan menjadi sangt penting
di dalam proses-proses komersial untuk
menyediakan produk-produk yang bermanfaat, termasuk antibody seperti penisilin.
Berdasarkan
hal di atas , maka penulis tertarik untuk lebih mendalami dan mengidentifikasi
tentang fungi dan peranannya. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis
membahas tentang ciri fungi, klasfikasi fungi, reproduksi fungi, dan peranan
dalam kehidupan manusia.
1.2 Tujuan
1.
Mengetahui cara isolasi dan
identifikasi fungi
2.
Mengetahui karakteristik
makroskopik dan mikroskopik suatu fungi
3.
Mengetahui spesies fungi dari
berbagai sampel
BAB 2. KAJIAN PUSTAKA
Jamur atau
fungi terdiri dari kapang dan khamir. Jamur adalah organisme heterotrofik,
mereka memerlukan senyawa organic untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari
benda organic mati yang terlarut mereka disebut saprofit. Jamur mempunyai
dinding sel yang kaku dan berbentuk uniseluler atau multiseluler sebagian mempunyai
ukuran yang mikroskopis sedangkan yang lainnya mempunyai ukuran yang cukup
besar seperti jamur merang. Jamur tidak mengandung klorofil sehingga tidak
berfotosintesis. Fungi tidak menelan makanannya tetapi harus berupa nutrient
yang larut agar dapat diabsorpsi. Fungi yang multiseluler menghasilkan filament
yaitu struktur mikroskopis seperti benang yang disebut hifa. Kumpulan hifa
disebut miselium, fungi uniseluler yang terkenal adalah ragi dengan berbagai
bentuk seperti bulat hingga oval, elips hingga ke bentuk filament. Jamur sudah
tidak asing lagi bila kita lihat misalnya warna biru dan hijau pada buah jeruk
dan keju warna putih seperti bulu pada roti, jamur di lapangan.
Jamur adalah
organisme eukariotik (mempunyai inti sel) tidak mempunyai klorofil, mempunyai
spora, struktur somatic atau talus berupa sel tunggal (uniseluler) dan umumnya
berupa filament atau benang-benang bercabang (multiseluler), berkembangbiak
secara seksual dan aseksual, dinding sel umumnya terdiri dari kitin dan
selulosa atau keduanya. Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil
sehingga ia tidak mampu untuk memproduksi makan sendiri karena jamur tidak bisa
memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya. Karbon berasal dari
sumber anorganik misalnya glukosa. Oleh karena itu jamur memerlukan senyawa
organic baik dari bahan organic mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur
dikatakan heterotroph. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari
organisme hidup da nada pula yang memperoleh makanan dari bahan organic mati
seperti sisa-sisa hewan atau tumbuhan. Jamur hidup dan memperoleh makanan dari
bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan memperoleh
makanan dari organisme hidup dinamakan parasite. Beberapa spesies dapat
menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk jamur
biasanya berupa pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi,
2003).
Jamur adalah
sel mikroskopis yang tumbuh memanjang seperti benang yang dikenal dengan hifa.
Diameter hifa hanya beberapa micrometer, tetapi dapat tumbuh memnjang hingga
mencapai beberapa meter. Hifa yang tumbuh membentuk masa disebut misellium atau
tebal menyerupai kawat dan disebut sebagai rhizomorphs yang tampak seperti
akar. Jamur yang tumbuh dengan cara memperpanjang hifa pada ujungnya dikenal
sebagai pertumbuhan apical atau pada bagian tengah hifa yang disebut
pertumbuhan iterkalar. Hifa pada beberapa kapang mempunyai penyekat melintang
atau septa dan adanya septa ini dipergunakan untuk identifikasi. Hifa tersebut
memanjang diatas atau tembus melalui medium dimana kapang itu tumbuh (Soekarto,
2008).
Saprofit
merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organic yang mati. Jamur
saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu
tumbang dan buah jatuh. Sebagian besaar jamur saprofit mengeluarkan enzim
hydrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi
molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu juga hifa dapat
langsung menyerap bahan makanan organic dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan
inangnya. Saprofit menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks
menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhanameningkatkan
kesuburannya. Sebaliknya mereka juga dapat merugikan kita bilamana mereka
mebusukkan kayu, tekstil, makanan dan bahan-bahan lain (Anonim, 2008).
Secara
morfologis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya menggunakan
mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klasifikasi dapat ditentukan,
secara visual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna/tidak berwarna
yang disebabkan karena adanya miselia dan spora. Miselia terbentuk dengan
adanya nifa, baik yang bersepta atau tidak bersepta. Jamur terbagi menjadi
beberapa familia antara lain Moniliaceae (aspergillus, phenicilium,
trichothecium, geotrichum, monilia, sporatrichum, botrytis, dll), dematiaceae
(cladosporium, helminthosporium, dll). Dan tuberculariaceae (fusarium)
(Kusnadi, 2003).
Sifat
kulturan dari jamur dapat dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada
makanan. Pada permukaan bahan makanan tampak kering, membentuk masa serbuk,
kadang-kadang halus dan lunak atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia
hijau biru, biru ke hijauan, kuning, orange, merah muda, coklat, abu, dan hitam
(Kusnadi, 2003).
Banyak jamur
yang sudah dikenal peranannya, yaitu jamur yang tumbuh diroti, buah, keju,
ragi, dalam pembuatan bir, dan yang merusak tekstil yang lembab, serta beberapa
jenis cendawan yang dibudidayakan. Beberapa jenis memproduksi antibiotic yang
digunakan dalam terapi melawan berbagai infeksi bakteri (Hadioetomo, 1993).
Faktor
lingkungan seperti pH tanahm pupuk anorganik, kandungan bahan organic dan
kelembaban tanah merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan fungi.
Jamur terdapat pada semua jenis tanah yang bereaksi masam. Meski demikian ada
juga jamur yang berada pada tanah, contohnya: pemupukan dengan garam ammonium.
Dalam hal ini ammonium teroksidasi membentuk nitrat dan ion nitrogen yang
mengakibatkan penurunan pH tanah.
Pada umumnya
jamur yang hidup sebagai saprofit menguntungkan bagi kehidupan manusia misalnya
sebagai decomposer yang dapat menghancurkan sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan
yang berupa senyawa yang kompleks menjadi senyawa sederhana, dan kemudian
dikembalikan ke dalam tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Jamur
saprofit juga penting dalam industry fermentasi misalnya dalam pembuatan bir,
roti, tempe, dan juga digunakan dalam memproduksi asam-asam organic,
obat-obatan, vitamin dan antibiotika seperti penisilin, amisilin. Selain itu
jamur saprofit juga banyak yang dikonsumsi oleh manusia misalnya jamur merang,
jamur kuping, jamur tiram, sedangkan jamur yang hidup sebagai parasite umumnya
merugikan karena dapat menyebabkan berbagai penyakit pada tubuh manusia, hewan
dan tumbuhan. Tapi tidak semua jamur yang berasosiasi dengan tumbuhan
merugikan, tetapi ada yang menguntungkan bagi jamur dan tumbuhan. Hifa jamur
membentuk organ khusus dengan akar tanaman yang dikenal dengan mikoriza.
Belakangan ini jamur tidak hanya menjadi pemikiran para ahli sitology, ahli
genetika dan biokimia yang menemukan bahwa jamur dapat menjadi alat penelitian
penting dalam mempelajari biologi dasar. Hal ini disebabkan oleh jamur lebih
cepat berkembang disbanding dengan tumbuhan dan hewan.
BAB 3. METODE KERJA
3.1 Alat
dan Bahan
1. Pengamatan anatomi dan
struktur tubuh fungi makroskopik
·
Alat : mikroskop, kamera, objek glass, cover glass,
lup, pipet tetes, pensil warna, dan silet.
·
Bahan : jamur kuping, dan jamur tiram.
2. Isolasi dan karakteristik
jamur jagung atau roti busuk (Asperghilus
sp)
·
Alat : cawan petri, cover glass,
jarum ose, Bunsen, glass objek, pinset, beaker glass, incubator, cuter, kertas
label, dan mikroskop.
·
Bahan : roti berjamur, jagung
busuk, media PDA sebanyak 2 cawan petri, dan alcohol 70%.
3. Pengamatan mikroskopik
jamur tempe (Rhizopus orizae)
·
Alat : mikroskop, objek glasss,
cover glass, tusuk gigi, pipet tetes, dan glass kimia.
·
Bahan : air dan tempe.
4. Pengamatan mikroskopis
yeast (Saccharomyces ceeviceae) dari
biakkan tape singkong
·
Alat : mikroskop, objek glass, cover
glass, jarum ose, pinset tetes, cawan petri, spritus, dan kertas saring
·
Bahan : yeast tape dan laktofenol
blue.
3.1
Cara Kerja
1.
Pengamatan anatomi dan struktur tubuh fungi makroskopik
a.
Mengamati morfologi jamur yang
telah disiapkan baik secara makroskopik dan mikroskopik
b.
Menggambar jamur dan
bagian-bagiannya serta mengambil gambar dengan kamera
c.
Menyusun urutan klasifikasi serta
mencatat karakteristtik anatomi fungi
2.
Isolasi dan karakteristik jamur jagung atau roti busuk (Asperghilus sp)
a.
Siapkan media PDA pada cawan
petri.
b.
Ambil sedikit jamur roti atau jagung
busuk dan homogenkan kedalam aquades.
c.
Ambil 1 ml suspensi jamur yang
telah dihomogenkan dengan aquadest tersebut dan masukkan atau menanamnya
kedalam cawan petri berisi media PDA.
d.
Inkubasi pada suhu ruang 30 C selama
2X24 jam (kondisi benar-benar steril ).
e.
Amati, foto dan catatlah
karakteristik dari jamur yang telah anda
peroleh.
3.
Pengamatan mikroskopik jamur tempe (Rhizopus orizae)
a.
Ambilah bagian putih dari
tempe tapi bagian halus dari tempe
menggunakan tusuk gigi.
b.
Letakkan diatas gelas bjek
yang telah di isi air, sedikit dikocek agar benang-benang nya terurai kemudian
tutup dengan cover glas.
c.
Amati dengan mikroskop, mulai
dengan perbesaran lemah sampai dengan 100X.
d.
Gambar hasil pengamatan dan
ambil foto hasil preparat.
4.
Pengamatan mikroskopis yeast (Saccharomyces ceeviceae) dari biakkan tape singkong
a.
Ambillah bagian putih dari
tape singkong menggunakan tusuk gigi.
b.
Letakkkan diatas glas objek yang
telah di isi air sedikit dikocek agar benang-benzang nya terurai kemudian tutup
dengan cover glas.
c.
Amati dengan mikroskop, mulai
dengan perbesaran lemah sampai dengan 100X
d.
Gambar hasil pengamatan dan
ambil foto hasil preparat
BAB 4. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 tabel
hasil pengamatan
1.
Pengamatan anatomi dan struktur tubuh fungi makroskopik
|
Spesies jumur makroskopik
|
Foto hasil pengamatan jamur
|
Gambar literatur
|
Klasifikasi jamur
|
Karakteristik jamur
|
|
1.
Auricullaria polytricha
|
|
|
·
Kingdom : Fungi
·
Divisi : Basidiomychota
·
Kelas :
Heterobacidiomychetes
·
Ordo : Auriculariales
·
Family : Auriculariaceace
·
Genus : Auricularia
·
Spesies : Auriclaria polytricha
|
·
Bentuk : tepian
bergelombang, tidak beraturan, menyerupai kuping
·
Memiliki tubuh buah kenyal
(mirip gelatin)
·
Ukuran : 2-15 cm
·
Berdaging tipis
·
Warna coklat kehitaman
|
|
2.
Flerotus astreatus
|
|
|
·
Kingdom : Fungi
·
Divisi : Basidiomychota
·
Kelas :
Heterobacidiomychetes
·
Ordo : Agaricates
·
Family : Richomataceae
·
Genus : Fleurotus
·
Spesies : Flerotus astreatus
|
·
Bentuk : seperti tudung/
paying
·
Kisi-kisi bawah (sirip)
relative lebar dari pada jenis osteron
·
Warna putih bersih
·
Stape dapat terlihat dai
ventral
|
2.
Isolasi dan karakteristik jamur jagung atau roti busuk (Asperghilus sp)
|
Spesies jamur hasil isolasi
|
Foto hasil pengamatan jamur pada media PDA
+gambar skematis
|
Foto hasil pengamatan dengan mikroskop +gambar skematis
|
Gambar literatur
|
Klasifikasi jamur
|
Karakteristik jamur
|
|
Pada roti busuk
|
|
|
|
·
Kingdom : Fungi
·
Phylum : Zgomycota
·
Kelas : Zgomycetes
·
Ordo : Mukorales
·
Family : Mucoraceae
·
Genus : Rhizopus
·
Spesies : Rhizopus stolonifer
|
·
hifa pendek bercabang
·
berfungsi sebagai rhizoid
·
sporangiofor mencuat ke
udara, mengandung banyak inti sel
·
dibagian ujung terbentuk
sporangium
·
stolon berdiameter lebih
besar
|
|
Pada jagung bususk
|
|
|
|
·
Kingdom : Fungi
·
Phylum : Ascomycota
·
Sub phylum : Phezizomycotina
·
Kelas : Ascomycetes
·
Ordo : Sordariales
·
Family : sordariaceae
·
Genus : Neurospora
·
Spesies : Neuspora sitophylia
|
·
Warna jingga
·
Bentuk spora konidia
·
Terdapat guratan pada spora
menyerupai bentuk akson
·
Fase seksual teleomorth
|
3.
Pengamatan mikroskopik jamur tempe (Rhizopus orizae)
|
Gambar jamur Rhizops orizaei
|
Foto hasil pengamatan
|
Gamabar skematis
|
Gambar literatur
|
Klasifikasi jamur
|
Karakteristik jamur
|
|
|
|
|
|
·
kingdom : Fungi
·
Divisi : Zgomycota
·
Kelas : Zgomycota
·
Ordo : Mucorales
·
Family : Mucoraceae
·
Genus : Rhizopus
·
Spesies : Rhizopus orizae
|
·
Berwarna putih
·
hifa tidak bersekat
(sinositik)
·
saprotrof
·
reproduksi aseksual dengan
cara membentuk sporangium dan seksual dilakukan fusihifapositif dan negatif
membentuk progamentangium
|
4.
Pengamatan mikroskopis yeast (Saccharomyces ceeviceae) dari biakkan tape singkong
|
Gambar yeast saccharomyces
|
Foto hasil pengamatan
|
Gamabar skematis
|
Gambar literatur
|
Klasifikasi jamur
|
Karakteristik jamur
|
|
|
|
|
|
·
kingdom : fungi
·
divisio : Ascomycota
·
kelas : Ascomycetes
·
ordo : saccaromycetales
·
family : Saccaromycetaceae
·
genus : Saccaromyces
·
spesies : Saccharomyces sereviceae
|
·
tidak berflagel
·
bersel Satu
·
genera membentuk filament
(pseudomiselium)
·
berbentuk elipsodial
·
diameter sekitar 1,3 nm
·
ekariot
·
warna putih kekuningan
·
bentuk koloni bulat
·
permukaan berkilau
·
tekstur lunak
·
sel bulat dengan akspora 1-8
buah
|
4.2
pembahasan
Jamur atau
fungi banyak kita temukan di lingkungan sekitar kita, jamur tumbuh subur
terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembab. Akan tetapi jamur
juga dapat ditemukan hampir disemua tempat dimana ada materi organic. Jika
lingkungan di sekitarnya mongering, jamur akan mengalami tahapan istirahat atau
menghasilkan spora. Cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang jamur disebut
mikologi. Kebanyakan jamur termasuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetative
kapang berfilamen panjang bercabang yang seperti benang, yang disebut hifa.
Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup
jamur). Hifa-hifa membentuk jarring-jaring benang kusut, disebut mesellium
(Hadioetomo, 1993).
Secara
morfologiis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya
menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klarifikasi dapat
ditentukan secar visual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna atau
tidak berwarna yang disebut misellia dan spora. Miselia terbentuk oleh adanya
hifa, baik yang bersepta atau yang tidak bersepta. Jamur terbagi menjadi
bebrapa familia antara lain Moniliaceae (aspergillus, phenicilium,
trichothecium, geotrichum, monilia, sporatrichum, botrytis, dll), dematiaceae
(cladosporium, helminthosporium, dll). Dan tuberculariaceae (fusarium)
(Kusnadi, 2003).
Sifat kultural dari jamur dapat
dilihat dengan kenampakan pertumbuhannya pada makanan. Pada permukaan bahan
makanan tampak kering, membentuk massa serbuk, kadang-kadang halus dan lunak
atau kelihatan basah dan berair. Warna miselia hijau biru, biru kehijauan,
kuning, orange, merah muda, coklat, abu-abu, dan hitam (Kusnadi, 2003).
Klasifikasi jamur terutama didasarkan
pada ciri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama tahap-tahap
seksual. Jamur mampu memanfaatkan berbagai macam bahan untuk gizinya, sekalipun
demikian mereka itu heterotroph. Berbeda dengan bakteri, mereka tidak dapat
menggunakan senyawa karbon anorganik, seperti karbondioksida. Karbon berasal
dari sumber organic, misalnya glukosa. Beberapa spesies dapat menggunakan
nitogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk cendawan biasanya
berisikan pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis (Kusnadi, 2003).
Pada
penentuan populasi jamur tanah, udara, dan roti media agar yang digunakan
adalah PDAnyang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah PDA
yang telah diberi antibiotic. Prinsip dari isolasi jamur adalah memisahkan atau
menumbuhkan suatu jenis jamur dengan jamur lain yang berasal dari campuran
bermacam-macam jamur. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media
padat, karena dalam media padat jamur akan membentuk suatu koloni yang tetap
pada tempatnya. Media yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan
mikroorganisme yang akan kita ketahui populasinya. Karena kalau tidak sesuai
agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh.
Kita
mengisolasijamur pada udara, roti dan tanah dengan meremas-remas roti dan
tanah. Tujuannya agar pada saat ketiganya dimasukkan ke media PDA, jamur dapat
tumbuh dan bisa berkembang dalam waktu yang cukup lama agar nantinya kita dapat
mengamati perkembangan jamur tersebut. Media PDA yang berisikan jamur itu akan
diletakkan di sembarang tempat besar kemungkinan jamur tersebut akan terganggu
perkembangbiakannya dan akan terkontaminasi dengan udara, serta tidak steril,
dengan begitu makankeberhasilan yang akan didapatkan akan kecil. Maka dari itu
pada incubator jamur akan diletakkan dengan suhu yang pas yang telah
disesuaikan untuk perkembangan jamur tersebut.
Jamur yang
terdapat pada roti yang telah dilihat di mikroskop adalah jamur aspergilus sp,
rhizopus dan torula. Jamur aspergilus sp ini akan menyerang roti pada keadaan
yang cocok. Roti yang disimpan selama kurang lebih 7 hari akan tumbuh jamur.
Jamur ini sangat mudah tumbuh dan berkembang pada roti karena pada roti
terdapat makanan yang cukup untuk perkembangan jamur tersebut. Begitu pula pada
media PDA ini. Bentuk mikroskopis jamur aspergilus sp yaitu penyebaran koloni
miselia pada jamur ini menyebar kesegala arah, bentuk miselianya seperti kapas,
kerapatan miselia pada jamur ini sangat rapat, warna koloni miselianya berwarna
putih lama-lama menjadi kehijauan. Bentuk konidia dari jamur ini biasanya
berbentuk bulat sama tapi lonjong, warna konidianya berwarna hitam, hifanya
bersepta, dan biasanya warna hifanya hitam sampai hijau. Aspergilus sp dapat
tumbuh pada suhu 35-37 derajat Celsius (optimum) dan memerlukan oksigen yang
cukup.
Teknik
isolasi dari bahan makanan yaitu roti, tampak dari foto hasil pengamatan,
koloni ini termasuj dalam jenis kapang, warna koloni putih kekuningan, terdapat
miselium, tidak berbau dan merupakan jenis kapang aerob. Kapang ini merupakan
rhizhopus.Jamur rhizophus selain tumbuh di media roti juga tumbuh di media
tanah dan udara. Rhizhopus dapat tumbuh pada suhu 5-37 derajat Celsius tapi
pertumbuhannya optimum yaitu pada suhu 25 derajat Celsius. Rhizhopus tumbuh
dalam kondisi anaerobic. Jamur rhizopus dapat tumbuh di media udara, tanah, dan
roti karena spora jamur rhozhopus berada pada udara dan tanah ataupun diri
kita.Banyak jamur yang sudah dikenal perannannya yaitu jamur yang tumbuh di
roti , buah, keju, ragi, dalam pembuatan bird an dapat merusak tekstil yng
lembab. Beberapa jenis memproduksi antibiotic yag digunakan dalam terapi berbagai
infeksi bakteri. Diantanya semua organisme jamur adalah organisme yang paling
banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang menyerang secara
langsung seluruh material organic. Adanya enzim yang bersifat degradatif ini
menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah alam,
dan sebagai decomposer dalam siklus biogeokimia (Hadioetomo, 1993).Semua unsur
kimia di alam akan beredar melalui jalur tertentu dari lingkungan ke organisme
atau makluk hidup dan kembali lagi ke lingkungan. Semua bahan kimia dapat
beredar berulang-ulang melewati ekosistem secara tak terbatas. Jika suatu
organisme itu mati maka bahan organic yang terdapat pada tubuh organisme
tersebut akan dirombak menjadi komponen abiotic dan dikembalikan lagi ke dalam
lingkungan. Peredaran bahan abiotic dari lingkungan melalui komponen biotik dan
kembali lagi ke lingkungan dikenal sebagai siklus biogeokimia (Kusnadi, 2003).
BAB 5. KESIMPULAN
Isolasi jamur dapat dilaksanakan dengan menggunakan media PDA . jamur
yang diisolasi adalah jamur yang ada dalam roti, udara, dan tnah. Pada jamur
yang ada di udara dideteksi bahwa merupakan jamur rhizophus. Pada roti
terdeteksi jamur rhizhopus, torula dan aspergilus. Pada tanah terdeteksi jamur
penicillium, clodosporrium, rhizhopus, dan fusarium.
Teknik isolasi jamur harus dilakukan secara aseptic agar tidak
terkontaminasi mikroba. Dapat juga digunakan antimikrobia pada media.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, 1990. Dasar-dasar
mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
Dwijoseputro, 1992. Mikrobiologi
Pangan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Hadioetomo, R.S., 1993. Mikrobiologi
Dasar dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta.
Kusnadi, dkk., 2003. Mikrobiologi.
UMY Pres: Yogyakarta.
Pelczar, Michael, 1986. Dasar-dasar
Mikrobiologi. UI Pres: Jakarta.
Komentar
Posting Komentar