HIDROPONIK TANAMAN SAWI




LAPORAN PRAKTIKUM HIDROPONIK
TANAMAN SAWI


















Penyusun:
Kelompok ….

Anggi Dwi Putri  2013184205B0029
Emi Irizkika W   2013184205B0044
Ester Nurfiani     2013184205B00
Inget Puji Lestari 2013184205B00
Siti Zayniatus      2013184205B0046
Sofi Safitri           2013184205B00



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PGRI JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam dunia modern ini pertanian juga semakin maju untuk menjawab tantangan dari pada masalah-masalah yang muncul dimasa sekarang. Seperti masalah yang semakin sempitnya lahan pertanian dikarenakan alih fungsi lahan pertanian yang katanya lebih menguntungkan dari pada digunakan untuk pertanian, seperti pembukaan swalayan, tempat-tempat hiburan dan lain sebagainya. Padahal kita ketahui mayoritas masyarakat negara kita hidup dari bertani sehingga ketika lahan yang digunakan untuk menghidupi mereka dan keluarganya di alih fungsikan, maka tidak ada yang dapat mereka andalkan untuk memenuhi kebutuhannya. Bercermin dari masalah itu maka solusi demi solusi muncul untuk membantu keadaan pertanian kita yang semakin terpinggirkan, khususnya para petani yang telah kehilangan sawah-sawah mereka. Solusi tersebut salah satunya berupa sistem tanam yang tidak menggunakan media yang selama ini di anggap sebagai media satu-satunya untuk bertanam. Media tersebut berupa media non tanah, bias berupa air, udara, maupun jenis lain yang selain tanah, seperti arang sekang, pasir dan lain sebagainya.
Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasoan air yang pas-pasan. Hidroponik (Inggris: hydroponic) berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless.
1.2    Tujuan
·         Untuk mengetahui cara pembudidayaan tanaman sawi melalui sistem hidroponik.
·         Untuk mengetahui bahan dan alat-alat yang digunakan dalam pembudidayaan tanaman melalui sistem hidroponik.

1.3  Hipotesis


BAB 2. KAJIAN PUSTAKA

Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman. Perbedaan bercocok tanam dengan tanah dan hidroponik yaitu, apabila dengan tanah, zat-zat makanan diperoleh tanaman dari dalam tanah. Sedangkan hidroponik, makanan diperoleh tanaman dari dalam air yang mengandung zat-zat anorganik. (Mikrajuddin,2007:161). Para peneliti menggunakan budidaya hidroponik untuk menentukan unsur-unsur mineral mana yang memang betul-betul nutrien esensial. (Campbell, 2008 : 339).
Sistem hidroponik dapat memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang lebih terkontrol. Dengan pengembangan teknologi, kombinasi sistem hidroponik dengan membran mampu mendayagunakan air, nutrisi, pestisida secara nyata lebih efisien (minimalys sistem) dibandingkan dengan kultur tanah, terutama untuk tanaman berumur pendek. Penggunaan sistem hidroponik tidak mengenal musim dan tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah untuk menghasilkan satuan produktivitas yang sama. (Lonardy dalam Mas’ud, 2009 :131).
Sistem hidroponik banyak digunakan untuk menanam tumbuhan holtikultura seperti tomat, paprika, sawi dan melon. Pada awalnya, sistem hidroponik identik dengan penanaman tanpa media tanah, akan tetapi sesuai dengan perkembangan teknologi, hidroponik digunakan untuk penumbuhan tanaman dengan mengontrol nutrisi tanaman sesuai dengan kebutuhannya, salah satu metode yang mulai banyak digunakan adalah nutrient film technique yang merupakan sistem hidroponik tertutup , yang mana nutrisi akan mengalir secara terus menerus atau dalam jangka waktu tertentu secara teratur. (Suprijadi, 2009 : 31).
Salah satu media yang dapat digunakan untuk sistem hidroponik adalah gel. Pengaturan ukuran gel dalam media tanam sangat diperlukan, karena dapat mempercepat proses penyerapan air dan penyimpanan air oleh media. Selain itu ukuran gel juga mempengaruhi penyediaan ruang untuk pengakaran tanaman. Keuntungan lain penggunaan gel dapat menghindarkan adanya hewan tanah, dapat diberi pewarna sehingga dapat mempercantik untuk tanaman hias. (Hakim,2006)Selain gel masih ada media tanam lain yang dapat dimanfaatkan untuk hidroponik.
Misalnya arang sekam, Arang sekam merupakan hasil dari pembakaran kulit gabah. Menurut Murniati (dalam Sari,2009) bahwa arang sekam memiliki sifat kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, ringan dengan berat jenis sekitar 0,2 gr/cm3 , kapasitas menahan air tinggi dan dapat menghilangkan pengaruh penyakit karena telah melalui tahap sterilisasi, sehingga relatif bersih dari hama , bakteri dan gulma.
Menurut Pramono ( dalam Rahmawaty,2009: ) menyatakan bahwa media dalam hidroponik berfungsi sebagai penopang tanaman dan memiliki syarat seperti struktur yang stabil selama pertumbuhan tanaman , bebas dari zat berbahaya bagi tanaman, bersifat inert, memiliki daya pegang air yang baik, drainase dan aerase yang baik. Prinsip dasar dari hidroponik adalah memberikan atau menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan. Pemberiannya dilakukan dengan penyiramannya atau meneteskannya pada tanaman. (Tim Penulis PS, 2006 : 44). Hal ini dapat dibuktikan bahwa, budidaya secara hidroponik dapat berhasil apabila kebutuhan air, sirkulasi udara dan hara tanaman tercukupi. (Susanto, 2010 : 1) Apabila kekurangan unsur tersebut maka akan ada kemungkinan tanaman tersebut akan mati ataupun layu. Perlu adanya perawatan yang intensif agar tidak terjadi hal-hal tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan air, dapat digunakan irigasi untuk suatu tanaman. Teknik yang dapat digunakan adalah irigasi tetes Ro Drip.Teknologi irigasi tetes Ro Drip sangat efisien dalam penggunaan air sehingga sangat cocok untuk digunakan pada budidaya tanaman sayuran di dataran rendah yang memiliki keterbatasan sumber air. (Kasiran, 2009 : 29) Karena ini membantu untuk ketersediaan air bagi suatu tanaman.
BAB 3. METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan
1. Pisau
2. Botol plastik
3. Kain Planel
4. Bibit tanaman sawi
5. Nutrisi ( Air Kelapa dan Air dengan perbandingan 20 ml : 1 ml )

3.2 Cara Kerja
1. Siapkan botol plastik yang telah dipotong menjadi dua bagian (bagian atas digunakan sebagai tempat penumbuhan media dan bagian bawah digunakan sebagai tempat sediaan nutrisi).
2. tempatkan media pada botol bagian atas botol dengan cara mengeratkan media dengan kain planel.
3. Isi botol bagian bawah dengan sediaan nutrisi (Air Kelapa dan Air dengan perbandingan 20 ml : 1 ml ).
4. Gabungkan botol yang berisi media dengan botol yang berisi sediaan.
5. Amati dan catat proses pertumbuhan tanaman sawi.












BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


BAB 5. KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA

Untung, O. 2001. Hidroponik Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hadian S.U., Sani M.I., Arie I. 2006. Perancangan dan Implementasi Sistem Otomatisasi Pemeliharaan Tanaman Hidroponik. Jurnal Pertanian  8 (1) : 1-4.


Komentar

Postingan Populer